Tuesday, 13 March 2012

Sunan Kalijaga

 
Dialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ('kungkum') di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

Saturday, 15 October 2011

Kata Seniman Tentang Jakarta

Debu, panas, dan macet, adalah pemandangan sehari-hari kota ini. kota yang konon menjadi impian masyarakat desa, oleh para seniman justru dijadikan ajang bulan-bulanan dan kritikan. tentu ini bukan sekedar omong kosong. sebab ada yang bilang kalau keadaan masyarakat suatu daerah bisa dilihat dari kaya-karya seni yang lahir saat itu. artinya karya seni tidak hanya berfungsi sebagai entertain, tapi juga sebagai cermin. Nah, kalou karya seni yang dilahirkan oleh para seniman adalah karya-karya yang 'miring', bisa disimpulkan kalu sebenarnya kota jakarta itu juga 'miring'. sebab menurut beberapa seniman , karya seni itu lahir karena adanya realita dan pengalaman. artinya bisa dibilang kalu karya seni itu merupakan realita yang ditransfer dalam bentuk seni.
Slank misalnya, dalam sebuah lagunya mengatakan kalu Jakarta itu kota yang penuh serigala. sementara Iwan Fals, dalam lagunya yang berjudul Jakarta lebih ekstrim lagi, ia bilang kalu Jakarta itu kota yang pincang.berikut penggalan liriknya......
gedung-gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
gubuk-gubuk liar resah dipinggir kali
terlihat jelas kepincanag kota ini
tangis bocah lapar  bangunkanku dari mimpi malam
lihat dam dengarlah riuh lagu dalam pesta
diatas derita mereka masih bisa tertawa
memang kuakui kejamnya kota jakarta
namun kusaksikan lebih parah dari yang kusangka
banayak dan banyak lagi musisi lain yang berbicara tentang jakarta, kalau kamu sering naik angkot, kamu pasti pernah dengar seorang pengamen menyanyikan lagu yang kira-kira lriknya begini..... siapa suruh datang ke jakarta, siapa suruh datang ke jakarta.... atau kamu pernah melihat film lama yang berjudul "ibu tiri tak sekejam ibu kota".
ya, itulah jakarta dimata seniman. jakarta yang penuh serigala,jakarta yang pincang, jakarta yang kejam, jakarta yang.....oh jakarta..... si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya, sedangkan luka si miskin makin semakin menganga....jakarta.....oh jakarta...kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah, manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan....(pinjam lagunya bang iwan fals)